Kamis, 19 April 2012

SISTEM PERTANIAN



DASAR – DASAR AGRONOMI
SISTEM PERTANIAN


 






OLEH
KELOMPOK 2
ARDIAN                     D1A010066
MELA WIDYA           D1A010074
EMET NASUTION    D1A010067
AGROTEKNOLOGI B


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2011/2012


 
SISTEM PERTANIAN
Kemajuan ilmu dan teknologi, peningkatan kebutuhan hidup manusia, memaksa manusia untuk memacu produktifitas menguras lahan, sementara itu daya dukung lingkungan mempunyai ambang batas toleransi. Sehingga, peningkatan produktivitas akan mengakibatkan kerusakan lingkungan, yang pada ujungnya akan merugikan manusia juga. Berangkat dari kesadaran itu maka muncullah tuntutan adanya sistem pertanian.
A.    Perkembangan Pertanian
Zaman Mesopotamia yang merupakan awal perkembangan kebudayaan, merupakan zaman yang turut menentukan sistem pertanian kuno. Perekonomian kota yang pertama berkembang di sana dilandaskan pada teknologi pertanian yang berkiblat pada kuil-kuil, imam, lumbung, dan juru tulis - juru tulis.
Pertanian muncul ketika suatu masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan pangan bagi dirinya sendiri. Pertanian memaksa suatu kelompok orang untuk menetap dan dengan demikian mendorong kemunculan peradaban. Terjadi perubahan dalam sistem kepercayaan, pengembangan alat-alat pendukung kehidupan, dan juga kesenian akibat diadopsinya teknologi pertanian. Kebudayaan masyarakat yang tergantung pada aspek pertanian diistilahkan sebagai kebudayaan agraris.
B.     Sistem Bertanam Daerah Tropika
Daerah tropis kering dicirikan oleh adanya perbedaan yang nyata antara musim penghujan dan kemarau. Di daerah semacam ini dibutuhkan sistem pertanaman yang menghasilkan pangan yang cukup dan bergizi, meskipun terjadi variasi curah hujan yang sangat tinggi dari tahun ke tahun dan musim kemarau yang panjang. Hasil pertanian yang tinggi tergantung pada pemanfaatan curah hujan selama musim hujan dan air yang tersimpan di dalam tanah selama musim kering. Karena itu tanaman yang mengkonsumsi air secara efisien serta menghasilkan produksi tinggi dan bernilai gizi tinggi yang seharusnya ditanam.
Krisis ekonomi dan perubahan iklim di Asia dan Pasifik telah membuktikan kelemahan-kelemahan tersebut, dan dampaknya pada kegagalan panen yang pada akhirnya mempengaruhi perekonomian petani bahkan perekonomian nasional. Curah hujan yang lebih rendah dari yang diperkirakan berpengaruh terhadap penyiapan lahan dan gangguan pertumbuhan tanaman. Hal ini menyebabkan penyempitan luas tanam dan produksi rendah. Krisis ekonomi berdampak pada harga dan ketersediaan sarana produksi pertanian.
Penerapan sistem tumpang sari pada bedeng permanen mengurangi ketergantungan petani terhadap berbagai masalah seperti pendanaan dan iklim serta memperbaiki jumlah dan kualitas gizi pangan yang dihasilkan.

-          Pola Curah Hujan
Daerah tropis kering dicirikan oleh perbedaan yang nyata antara musim hujan dan kemarau setiap tahun. Variasi curah hujan tahunan sangat tinggi. Pada musim penghujan ada periode dengan intensitas curah hujan tinggi yang dapat menyebabkan mampat air dan genangan. Namun, ada pula periode selama dua minggu atau lebih tanpa hujan dalam musim penghujan. Dengan demikian tantangan tersebut dapat diantisipasi dengan menumbuhkan tanaman yang mampu memanfaatkan curah hujan secara efisien selama musim hujan dan mampu memanfaatkan air yang tersimpan di dalam tanah pada musim kemarau.
-          Distribusi Curah Hujan pada Musim Hujan
Hujan tidak terjadi secara merata sepanjang musim hujan. Hujan lebat terjadi dalam waktu yang pendek lalu diikuti oleh periode kering yang bisa terjadi selama 3 minggu. Periode tanpa hujan acapkali terjadi dalam bulan-bulan musim hujan, dan hal ini terjadi setiap tahun. 6 Periode kering setelah bertanam dapat menyebabkan pembenihan mati. Periode kering pada fase pertumbuhan menyebabkan tanaman kerdil. Periode kering pada fase pembungaan dapat mengakibatkan berkurangnya jumlah biji yang dihasilkan. Periode kering pada fase pengisian biji dapat mengurangi hasil panen dan mengakibatkan rendahnya mutu biji.

-          Sistem Produksi
Hasil panen padi sawah tadah hujan sangat terbatas di daerah tropis kering karena musim hujan terlalu pendek dan kejadian hujan tidak menentu. Padi juga membutuhkan pupuk dan perlindungan terhadap hama dan penyakit agar diperoleh hasil yang baik. Jika petani tidak memiliki akses untuk mendapatkan sarana-sarana tersebut, produksi mereka rendah. Sangatlah sulit juga menumbuhkan tanaman tegalan pada tanah yang telah ditanami padi dengan sistem tergenang.
Tegalan dan ladang memiliki kendala terutama kurangnya curah hujan, tanah yang kesuburannya rendah, banyak rumput liar dan erosi. Meningkatnya jumlah penduduk memaksa petani peladang untuk lebih sering berladang ke lahan semula tanpa memberikan waktu yang cukup untuk mengembalikan kesuburan tanah secara alamiah.
Petani mengumpulkan hasil hutan untuk memenuhi kebutuhannya akan buah, bahan bakar, tanaman obat-obatan, kayu bangunan dan makanan ternak. Hutan juga menyediakan bahan makanan bilamana tanaman pertanian mengalami gagal panen. Demikian pula petani memburu binatang liar. Namun hutanpun ditebang (digunduli) untuk dijadikan perkebunan. Dengan demikian para petani sudah tak lagi dapat menggantungkan penghidupannya pada hutan guna memenuhi kebutuhan mereka.
Kebun pekarangan ditanami dengan tanaman tahunan pada musim hujan. Juga pohon-pohon memberikan naungan, buah dan makanan ternak. Kebun semacam ini sangat penting bagi petani yang tidak memiliki peluang untuk mengumpulkan hasil hutan.
-          Masalah yang Berhubungan dengan Hasil Pangan di Daerah Tropis Kering
·         Erosi
Tanaman tegalan, seperti jagung, sorgum, ubi jalar dan kacang-kacangan, tidak membutuhkan banyak air sebagaimana padi, tetapi tanaman-tanam an tersebut ditanam di lahan miring pada musim hujan karena tidak tumbuh secara baik di lahan datar karena tanahnya sering digenangi air. Padi tumbuh baik dalam tanah yang tergenang air, tetapi di daerah tropis kering musim hujan terlalu pendek dan tidak menentu sehingga hasil yang baik tidak bisa diharapkan. Akibatnya, padi mengalami kegagalan disebabkan oleh ketidakpastian curah hujan dan tanaman tegalan tidak berproduksi secara baik karena rendahnya kesuburan tanah pada lahan miring.
Padi sistem tergenang membutuhkan banyak air guna mencapai hasil tinggi. Jika tidak tersedia cukup air, hasil dan mutu padi menurun. Tanaman padi sering kali gagal panen di daerah tropis kering.
Sangatlah sulit mengusahakan tanaman tegalan setelah panen padi. Hal ini disebabkan karena tanaman-tanaman selain padi tidak bisa tumbuh baik di tanah yang sebelumnya telah digenangi. Penggenangan membunuh jasad-jasad renik yang tinggal di dalam tanah dan bermanfaat mampu menyediakan nutrisi bagi pertumbuhan. Penggenangan dapat mengakibatkan pemadatan tanah sehingga menghambat pertumbuhan akar. Jika memungkinkan bagi petani untuk membuat bedeng pada musim kering, maka tanaman selain padi tidak akan mengalami mampat air jika hujan dan juga saluran di sekeliling bedeng dapat dimanfaatkan sebagai saluran irigasi. Namun demikian membuat bedeng dan merusaknya kembali untuk pertanaman padi bila lahan akan ditanami padi lagi adalah suatu pekerjaan yang besar. Bedeng ini seharusnya bersifat permanen meskipun pada bedeng tersebut hendak ditanami padi.
Di pulau Jawa, petani menerapkan suatu sistem yang disebut sistem surjan, yaitu kombinasi antara tanaman tegalan dan padi sawah di lahan yang sama. Sistem ini dibangun dengan cara menggali tanah dan menumpukkannya di atas bagian lahan yang tidak tergali sedemikian rupa sehingga membentuk suatu bedeng.
Padi ditempatkan pada bagian lahan yang digali, sedangkan tanaman tegalan ditanam pada bedeng.
Sistem seperti ini memberikan peluang bagi petani untuk mengusahakan tanaman tegalan pada musim hujan. Penyiapan untuk sistem ini membutuhkan banyak tenaga dan tanah yang cukup dalam. Jika air hanya tersedia untuk satu musim padi saja, maka bagian lahan yang diperuntukkan bagi padi dibiarkan kosong selama musim tanam kedua. Kalau tidak petani harus membuat bedeng sehingga mereka dapat menanam palawija setelah panen padi pertama.
-          Sistem Bertanam
Bedeng yang dibangun pada tanah yang gampang tergenang dapat memberikan peluang penanaman sejumlah tanaman selain padi. Dapat dikemukakan di sini beberapa contoh sistem pertanaman yang berproduksi baik di daerah kering. Meskipun demikian, petani diharapkan tidak hanya mencoba sistem-sistem ini tetapi dapat pula mengembangkan kombinasi-kombinasi baru yang sesuai dengan lingkungan dan keperluannya.
Bedeng kecil
Padi dapat secara langsung ditugal pada permukaan bedeng di awal musim hujan. Sesudah padi dipanen, kacang hijau dapat ditanam diantara tunggul rumpun padi. Tanaman kacang-kacangan (legum) ditanam sesudah tanaman bukan kacang-kacangan (non legum). Tanaman lain yang dapat bertumbuh baik pada musim hujan adalah kedelai. Kedelai dapat ditanam langsung di permukaan bedeng pada awal musim hujan. Sesudah kedelai dipanen, sorgum dapat ditugal pada permukaan bedeng. Tanaman bukan kacangkacangan ditanam sesudah tanaman kacang-kacangan. Jika ada fasilitas irigasi, tanaman-tanaman lain seperti sayur-sayuran dapat ditanam pada musim kemarau.



ժ
Bedeng besar
Tanaman-tanaman selain padi dan kedelai peka terhadap kelebihan air. Oleh karena itu, untuk menjamin keberhasilan tanaman tersebut di musim hujan, pembuatan bedeng besar diperlukan. Berbagai kombinasi tanaman tegalan dapat ditanam pada awal musim hujan untuk memenuhi kebutuhan makanan bergizi petani. Tanaman berumur pendek, menengah dan panjang perlu ditanam di musim hujan untuk menjamin hasil yang maksimum. Oleh karena setiap tanaman masak pada waktu yang tidak bersamaan maka panen dapat dilakukan beberapa kali sepanjang musim. Kombinasi tanaman biji-bijian, kacang-kacangan dan umbiumbian dapat menjamin kecukupan pangan dan nilai gizi makanan yang lengkap. Sementara tanah masih lembab, tanaman-tanaman yang dapat berbunga ulang, seperti sorgum dan kacang tunggak, dapat dipanen berulang-ulang. Tanaman umbi-umbian dapat dipanen manakala diperlukan.
ժSayuran dapat ditanam pada bedeng besar di musim hujan. Tanaman sayuran yang berumur pendek menyediakan makanan bergizi sementara petani masih menunggu hasil tanaman lain. Sayuran yang ditanam musim hujan umumnya memiliki harga yang lebih mahal dari pada sayuran di musim kemarau sebagai akibat tidak banyaknya petani yang menanam sayuran di musim hujan. Beberapa bedeng besar dapat ditanam dengan tanaman jenis makanan ternak yang dapat dipanen pada musim kemarau ketika bahan pakan ternak langka. Bercocok tanam aneka macam tanaman tahunan pada beberapa bedeng sangat berguna karena akan memperbaiki kecukupan pangan dan keanekaragaman bahan pangan. Beberapa tanaman tahunan memerlukan waktu beberapa tahun sebelum bisa dipanen. Tanaman tahunan yang lambat masak dapat ditumpangsarikan dengan tanaman yang lebih cepat masak. Merujuk pada “Pohon-pohon multiguna” untuk mendapatkan aneka fungsi tanaman tahunan.






C.    SISTEM PERTANIAN INDONESIA
Sistem ladang merupakan sistem pertanian yang paling primitif. Suatu sistem peralihan dari tahap budaya pengumpul ke tahap budaya penanam. Pengolahan tanahnya sangat minimum, produktivitas bergantung kepada ketersediaan lapisan humus yang ada, yang terjadi karena sistem hutan. Sistem ini pada umumnya terdapat di daerah yang berpenduduk sedikit dengan ketersediaan lahan tak terbatas. Tanaman yang diusahakan umumnya tanaman pangan, seperti padi darat, jagung, atau umbi-umbian.
Sistem tegal pekarangan berkembang di lahan-lahan kering, yang jauh dari sumber-sumber air yang cukup. Sistem ini diusahakan orang setelah mereka menetap lama di wilayah itu, walupun demikian tingkatan pengusahaannya rendah. Pengelolaan tegal pada umumnya jarang menggunakan tenaga yang intensif, jarang ada yang menggunakan tenaga hewan. Tanaman-tanaman yang diusahakan terutama tanaman tanaman yang tahan kekeringan dan pohon-pohonan.
Sistem sawah, merupakan teknik budidaya yang tinggi, terutama dalam pengolahan tanah dan pengelolaan air, sehingga tercapai stabilitas biologi yang tinggi, sehingga kesuburan tanah dapat dipertahankan. Ini dicapai dengan sistem pengairan yang sinambung dan drainase yang baik. Sistem sawah merupakan potensi besar untuk produksi pangan, baik padi maupun palawija. Di beberapa daerah, pertanian  tebu dan tembakau menggunakan sistem sawah.
Sistem perkebunan, baik perkebunan rakyat maupun perkebunan besar (estate) yang dulu milik swasta asing dan sekarang kebanyakan perusahaan negara, berkembang karena kebutuhan tanaman ekspor. Dimulai dengan bahan-bahan ekspor seperti karet, kopi, teh dan coklat yang merupakan hasil utama, sampai sekarang sistem perkebunan berkembang dengan manajemen yang industri pertanian.


Pertanian Berkelanjutan
Definisi komprehensif bagi pertanian berkelanjutan meliputi komponen-komponen fisik, biologi dan sosioekonomi, yang direpresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan kimia dibandingkan pada sistem pertanian tradisional, erosi tanah terkendali, dan pengendalian gulma, memiliki efisiensi kegiatan pertanian (on-farm) dan bahan-bahan input maksimum, pemeliharaan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi tanaman, dan penggunaan dasar-dasar biologi pada pelaksanaan pertanian.
Dalam usaha mengalihkan konsekuensi-konsekuensi negatif pertanian konvensional, beberapa format sistem pertanian berkelanjutan yang berbeda telah direkomendasikan sebagai alternatif-alternatif untuk mencapai tujuan sistem produksi pertanian yang dapat menguntungkan secara ekonomi dan aman secara lingkungan. Kepentingan dalam sistem pertanian alternatif ini sering dimotivasi dengan suatu keinginan untuk menurunkan tingkat kesehatan lingkungan dan kerusakan lingkungan dan sebuah komitmen terhadap manajemen sumberdaya alam yang berkeadilan.

SISTEM PERTANIAN ORGANIK
  1. Latar belakang diaktifkannya pertanian organik
Dikembangkannya sistem pertanian revolusi hijau di Indonesia. Revolusi hijau mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lahan berupa menurunnya kesuburan fisik dan biologi tanah. Pertanian organik diharapkan mampu mngembalikan kondisi alam yg telah kacau balau akibat dari proses revolusi hijau. Dengan penerapan sistem pertanian organik, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah dapat dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sehingga menciptakan pertanian yg berkelanjutan.

  1. Pengertian dan defenisi pertanian organik
-          Dalam arti sempit, pertanian organik adalah pertanian yang bebas dari bahan – bahan kimia.
-          Dalam arti luas, pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari atau membatasi penggunaan bahan kimia sintetis (pupuk kimia/pabrik, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan aditif pakan).
  1. Tujuan diterapkan sistem pertanian organik
Adapun tujuan dari sistem pertanian organik adalah menyediakan produk – produk pertanian (terutama bahan pangan) yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumen serta menjaga keseimbangan lingkungan dengan menjaga siklus alaminya.
  1. Konsep pertanian organik
Konsep awal pertanian organik yang ideal adalah menggunakan seluruh input yang berasal dari dalam pertanian organik itu sendiri, dan dijaga hanya minimal sekali input dari luar atau sangat dibatasi.

Dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia masih menghadapi beberapa kendala antara lain pupuk hayati masih berada di tahap awal pengembangan dan belum ditemukan kombinasi yang sesuai antara pupuk kimia/pupuk hayati yang sesuai dengan kondisi tanah. Adanya hama “transmigran” dari kebun yang nonorganic. Akibat rendahnya produksi tidak bisa mengimbangi permintaan pasar yang ada. Pasar terbatas, karena produk organik hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Kesulitan menggantungkan pasokan dari alam. Pupuk misalnya, harus mengerahkan suplai kotoran ternak dalam jumlah besar dan kontinu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar